Friday, June 19, 2015

Sajak-sajak En Kurliadi Nf

Kampung Kombang

begitulah kisah kampung ini sekarang
tentang tanah subur dan gembur
lagu-lagu ombak pengantar nelayan
supaya aku tahu,
hidup begitu bernafas dari keringat
airmata

tembang-tembang nemor
nyanyian dadali bersarang di jantung nadimu
perjalanan tidak berhenti disini saja
begitu melihat ke laut
di atas gelombang dan peluh badai
ada seorang laki-laki: ayah dari
anak-anak yang berlarian di ujung pesisir
sedang bertaruh nyawa demi serumpun senyum
yang sedang mereka istimewakan saat senja bertandang
di ruang tamu dan mimpi
yang menetas jadi rembulan

2013

Friday, June 12, 2015

Nicodemus van der Plas

Cerpen Arman AZ


BUKAN sekuntum mawar yang kubawa untuk Nicodemus van der Plas, melainkan sesobek kertas dari pengurus kompleks makam Kembang Kuning. Tulisan tangan bertinta hitam di kertas itu berisi petunjuk letak rumah terakhirnya. Tak ingin buang waktu percuma, aku bergegas ke tempat semula, diiringi hati yang bungah.

Pagi tadi aku tersesat berjam-jam di tengah makam Peneleh. Bagai mencari seutas jerami di tumpukan jarum, bukan mudah mencari sebuah makam di antara ribuan makam. Entah bakal makan waktu berapa hari untuk membaca setiap epitaf demi menemukan nama Nicodemus van der Plas. Kuncen uzur berbadan bungkuk ringkih itu pun bingung saat kutanya letak makam yang kumaksud. Dia akhirnya menyarankanku ke Kembang Kuning. Di sana terdata lengkap; nama dan kode makam para penghuni Peneleh. 

Di bawah sengit matahari kususuri tanah kering di antara makam-makam yang berderet rapi. Jika bukan karena penasaran yang akut, aku pasti berpikir tujuh kali untuk menyambangi tempat ini. Dalam kompleks seluas hampir lima hektar terbaring ribuan orang Belanda. Tiap makam diberi kode untuk memudahkan pencarian. Gubuk-gubuk liar berderet di sisi kiri, menempel dengan tembok dan jeruji pagar. Jemuran tergantung di makam-makam berpagar besi. Kaos, kain sarung, daster, sempak, dan kutang melambai ditiup angin kemarau. Ayam dan kambing sekehendak hati hilir-mudik, ada pula yang leyeh-leyeh di makam beratap seng.

Sajak-sajak Anam Khoirul Anam

Sketsa Retas

Tak perlu berandai-andai perihal waktu
yang terus berlalu di kepalamu. Sebab ia
akan terus berlalu dalam detak jantung
lalu berlalu terbenam dalam imajimu.

Sebagaimana ia menunjuk perhitugan
dengan tepat lewat gigil tubuhmu.
Berputar naik turun, melingkar bak ular

Embus nafas lembutmu menggesek lonceng
hingga lahirkan denting ritmis. Lalu kita sama-sama
pulas di atas alas kertas dengan seketsa retas.

Yogyakarta, 25 November 2013



Friday, June 5, 2015

Tumang

Cerpen Isbedy Stiawan ZS


MATAHARI tidak begitu menyengat.  Sungai yang membelah wilayah jadi dua bagian: way  kiri dan way kanan, arusnya amat tenang. Ikan-ikan, terutama gabus, baung, dan jenis lainnya, berenang di permukaan air.

Kami adalah satu puak  yang berdiam di tepi sungai ini. Persisnya di sekitaran Tanggo Rajo yang megah. Sebuah bangunan untuk prosesi adat, bagi puak . Kami hidup berjejer membelakangi sungai.

Inilah awal kampung kami. Sebuah kampung yang dititiskan lahirnya seorang raja bernama Minak Mangkubumi. Dari Minak Mangkubumi ini kemudian melahirkan tiga putra. Satu lelaki yang diwariskan segumpal tanah mendiami Pagardewa, namanya Minak Kemala Bumi yang melanglangbuana ke Pesagi, Banten, hingga Mekah.

Sajak-sajak Budi Hatees

Penepik
Aku hanya selembar kain
tak baru, tak pula lusuh
melekat di tubuhmu

Kau kenakan aku, 
penutup indah dada
dan bunting putih betismu
ketika bulan bakha
memancarkan pesona
warnanya

di halaman. pada malam
saat gamolan berdenting
mengikuti rampak tari melinting
dan angin tak dingin