Cerpen Wendy Fermana
KETIKA malam kelam sempurna, kapal hantu itu muncul ke atas tanah. Bilah-bilah dayungnya mengayun depan-belakang menggerus tanah. Tak jauh dari situ, sebuah sumur tua yang sudah lama ditutup tiba-tiba menyemburkan air.
Lelaki itu mengintip dari balik gorden jendela rumah, mulutnya menganga, berkali-kali ia mengusap mata, tidak percaya dengan apa yang sedang terhampar di hadapannya. Kapal itu memancarkan sinar kuning keemasan. Cahaya terangnya yang begitu indah membuat rembulan dan gugusan bintang di langit malam itu seolah malu untuk menampakkan diri, dan lebih memilih bersembunyi dalam pelukan awan hitam pekat.
Lelaki itu menyibak gorden lalu menutupnya lagi, berulang kali. Ia berusaha meyakini hal-hal ganjil yang disaksikannya itu khayalannya belaka. Tapi itu benar-benar nyata. Angin malam berhembus halus menegakkan kuduk. Napasnya tersenggal demi melihat semua itu.