Tamu Kesepuluh
- bumi dan bencana
Pagar bambu
di jalan debu
lelaki memburu
bulan tertutup asap
di percakapan rindu
buruan diskon
lalu pagi itu
duduk di depanku
pemburu berlari
lupa harinya
jemari yang sibuk
ingatkan penghuni
penari pagi
bumi dan bencana
seorang tamu
benahi bajunya
secarik kertas
ditulisnya debu
kumal seluruh tubuh
di sisiku waktu
cuma Satu
berlalu kutuju
pintuNya.
2015.
Tamu Kesembilan
- sahabat baru
Disinilah jualah
singai jauh mengalir
menelusuri liku
keraguan masih tersisa
sampai di teras rumah
di antara kata
suara lantang
derap berdentang-detang
di telinga pengelola kota
naikkan cerita lama
catatan itu penting
disampaikan cinta
yang tidak terasa ada
pertemuan itu nyata
jadi sampah teriknya matahari
menjadi keris
aku tetap di sini
di balai tua
berdiri menatap
jauh di dalam hati
sendirian berharap
lama.
2015
Tamu Kedelapan
- Hari-hari tak bercinta
Di mana senandung merdu
Pulau berlekuk tubuh
Indah gerak gemulai
Peminum tuak pagi
Saksi di pojok stadion
Melahap sunyi kemudian
Surat ditulis segera dibawa
Terhalang jalan wanita
Berbusana tapi telanjang
Lama dihilang-hilang pandang
Surat tak kunjung dibalas
Tanah seberang dan anak-anaku
Dihempas dongeng surat kabar
Hari-hari tanpa cinta
Kembalinya buah jiwa
Mengetuk pintu sanudera
Pagi sudah petang
Sinar kembali ke hati
2015
Tamu Ketujuh
andaikan kau
kekasihku sendirian
katakan padaku
aku di sini
jauh darimu
jika kau sunyi
jauh dariku
diamlah di bangku kayu
aku memandangmu
jauh dan sangat jauh
jika kau bernyanyi
lupa syair
aku ajarkan
improvlah sendiri
tulis kata susun kalimat
kalau benci itu ada
sampai kiamat
tak pernah dekat
jika tamumu sudah pulang
di ujung handphonemu
katakan, itu teman!
bukan selingkuhan
kalau dusta itu
nyata tak teraba
terasa sakit.
2015
-----------------
Naim Emel Prahana, lahir di desa Kotadonok, kabupaten Rejanglebong, Bengkulu, 13 Desember 1960. Pernah kuliah di FKIS IKIP Yogyakarta (1985). Pendidikan akhirnya di FH UII Yogyakarta. Saat ini bermukim di Metro, Lampung. Sajak-sajaknya terhimpun dalam berbagai antologi.
Fajar Sumatera, Jumat, 20 November 2015
- bumi dan bencana
Pagar bambu
di jalan debu
lelaki memburu
bulan tertutup asap
di percakapan rindu
buruan diskon
lalu pagi itu
duduk di depanku
pemburu berlari
lupa harinya
jemari yang sibuk
ingatkan penghuni
penari pagi
bumi dan bencana
seorang tamu
benahi bajunya
secarik kertas
ditulisnya debu
kumal seluruh tubuh
di sisiku waktu
cuma Satu
berlalu kutuju
pintuNya.
2015.
Tamu Kesembilan
- sahabat baru
Disinilah jualah
singai jauh mengalir
menelusuri liku
keraguan masih tersisa
sampai di teras rumah
di antara kata
suara lantang
derap berdentang-detang
di telinga pengelola kota
naikkan cerita lama
catatan itu penting
disampaikan cinta
yang tidak terasa ada
pertemuan itu nyata
jadi sampah teriknya matahari
menjadi keris
aku tetap di sini
di balai tua
berdiri menatap
jauh di dalam hati
sendirian berharap
lama.
2015
Tamu Kedelapan
- Hari-hari tak bercinta
Di mana senandung merdu
Pulau berlekuk tubuh
Indah gerak gemulai
Peminum tuak pagi
Saksi di pojok stadion
Melahap sunyi kemudian
Surat ditulis segera dibawa
Terhalang jalan wanita
Berbusana tapi telanjang
Lama dihilang-hilang pandang
Surat tak kunjung dibalas
Tanah seberang dan anak-anaku
Dihempas dongeng surat kabar
Hari-hari tanpa cinta
Kembalinya buah jiwa
Mengetuk pintu sanudera
Pagi sudah petang
Sinar kembali ke hati
2015
Tamu Ketujuh
andaikan kau
kekasihku sendirian
katakan padaku
aku di sini
jauh darimu
jika kau sunyi
jauh dariku
diamlah di bangku kayu
aku memandangmu
jauh dan sangat jauh
jika kau bernyanyi
lupa syair
aku ajarkan
improvlah sendiri
tulis kata susun kalimat
kalau benci itu ada
sampai kiamat
tak pernah dekat
jika tamumu sudah pulang
di ujung handphonemu
katakan, itu teman!
bukan selingkuhan
kalau dusta itu
nyata tak teraba
terasa sakit.
2015
-----------------
Naim Emel Prahana, lahir di desa Kotadonok, kabupaten Rejanglebong, Bengkulu, 13 Desember 1960. Pernah kuliah di FKIS IKIP Yogyakarta (1985). Pendidikan akhirnya di FH UII Yogyakarta. Saat ini bermukim di Metro, Lampung. Sajak-sajaknya terhimpun dalam berbagai antologi.
Fajar Sumatera, Jumat, 20 November 2015
No comments:
Post a Comment